IDENTIFIKASI LARVA LALAT DALAM KEPENTINGAN POST MORTEM INTERVAL PADA BANGKAI TIKUS (Rattus novergicus) YANG DIBERI CIU OPLOSAN DI SCIENCE TECHNO PARK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

Dita Pratiwi Kusuma Wardani, Arif Mulyanto

Abstract


Ciu merupakan salah satu minuman tradisional Banyumas yang mengandung alkohol. Ciu dapat dibuat oplosan dengan bahan lain untuk meningkatkan cita rasa dan sensasi minuman, namun berdampak buruk bagi kesehatan bahkan dapat menyebabkan kematian. Serangga berperan penting dalam penentuan Post Mortem Interval. Adanya kandungan obat atau senyawa yang terdapat pada jenazah dapat mempengaruhi perkembangan larva lalat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui spesies larva lalat yang terdapat pada bangkai tikus yang diberi ciu oplosan. Penelitian dilakukan secara observasional deskriptif. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2018.Sebanyak tiga ekor tikus Wistar diberi ciu yang dioplos dengan minuman berenergi, ditunggu hingga mati kemudian diletakkan di Science Techno Park Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Larva yang diambil 10% dari total populasi yang ditemukan setiap harinya. Identifikasi larva melalui pembuatan preparat posterior spirakel. Data dianalisis dengan univariate. Larva Calliphora sp. (19,10%), Sarcophaga sp. (0,71%), Chrysomya megacephala (13,28%), dan Chrysomya bezziana (13,86%) teridentifikasi pada bangkai tikus yang diberi ciu oplosan di Science Techno Park Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

 

Kata Kunci: Ciu, Oplosan, Post Mortem Interval, Larva Lalat


References


  1. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Menilik regulasi minuman beralkohol di Indonesia. Infopom 2014; 15(3): 1-12.
  2. 2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. 2018. [Cited 2019 Mar 25]. Available from: www.depkes.go.id/...2018/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf
  3. 3. Irmayanti, A. Penyalahgunaan alkohol di kalangan mahasiswa. [naskah publikasi]. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2015.
  4. 4. National Istitute on Alcohol Abuse and Alcoholism. 2017.[Cited 2017 Okt 26]. Available from: https://www.niaaa.nih.gov/alcohol-health/overview-alcoholconsumption/ alcohol-facts-and-statistics
  5. 5. Uddarojat R. Cedera dan kematian akibat minuman beralkohol palsu dan oplosan-potensi dampak pelarangan minuman beralkohol di Indonesia. Jakarta: Center for Indonesian Policy Studies, 2016.
  6. Hall RD, Huntington TE. Introduction: perceptions and status of forensic entomology. In: JH Byrd, JL Castner, editors. Forensic entomology: The utility of arthropods in legal investigations second edition. New York: CRC Press, 2009: 2.
  7. Goff ML. Early post mortem changes and stages of decomposition. In: J Amendt, CP Campobasso, ML Goff, M Grasberger, editors. Current concepts in forensic entomology. New York: Springer, 2010: 1-24.
  8. Verma K, Paul R. Assesment of post mortem interval (PMI) from forensic entomotoxicological studies of larvae and flies. Entomol Ornithol Herpethol 2013; 1(1): 1-4.
  9. 9. Youmessi FD F, Coninck E D, Bilong CF B, Hubrecht F, Djiéto-Lordon C, Braet Y et al. First records on five species of Calliphoridae (Diptera) reared from maggot collected on rat carrions corpse during a forensic entomology experiment in The Campus of The University of Yaounde I-Cameroon. Int J Biosci 2012; 2(3): 75-80.
  10. 10. Moophayak K, Klong-Klaew T, Sukontason K, Kurahashi H, Tomberlin JK, Sukontason KL. Brief Communication: Species Composition of Carrion Blow Flies in Northern Thailand: Altitude Appraisal. Rev.Inst.Med.Trop. Sao Paulo 2014; 56(2): 179-82.
  11. Fathy HM, Attia RAH, Yones DA, Eldeek HEME, Tolba MEM, Shaheen MSI. Effect of codeine phosphate on developmental stages of forensically important Calliphoride fly: Chysomyia albiceps. Mansoura J. Forensic. Med. Clin. Toxicol 2008;. 16(1): 41-59.
  12. Sinaga IS. Keragaman lalat Diptera pada bangkai kelinci di dalam ruangan. [Naskah Publikasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 2014.
  13. 13. Astari YK. Pengaruh paparan oplosan pada bangkai tikus terhadap pertumbuhan larva lalat untuk perkiraan Post Mortem Interval. [Skripsi]. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. 2016.
  14. Genard DE. Forensic entomology an introduction. United Kingdom: John Willey & Ltd, 2007.
  15. 15. Isfandiari AB. Perbedaan genus larva lalat tikus wistar mati pada dataran tinggi dan rendah Semarang. [Skripsi]. Semarang: Universitas Diponegoro. 2009.
  16. Laksmita AS, Watiniasih NL, Junitha IK. Identifikasi Larva Sarcophagidae (Genus Sarcophaga) Pada Bangkai Mencit (Mus musculus) Di Hutan Mangrove. Jurnal Biologi 2015; 19(2).84-8.
  17. Azevedo RR, Krüger RF. The influence of temperature and humidity on abundance and richness of Calliphoridae (Diptera). Série Zoologia 2013; 103(2),145-52.
  18. Abd El-Bar MM, Sawaby RF. A preliminary investigation of insect colonization and succession on remains of rabbits treated with an organophosphate insecticide in El-Qalyubiya Governorate of Egypt. Forensic Sci Int. 2011; 208(1-3), e26-30. DOI: 10.1016/j.forsciint.2010.10.007.
  19. Azwandi A, Nina Keterina H, Owen LC, Nurizzati, M.D., Omar, B. (2013). Adult carrion arthropod community in a tropical rainforest of Malaysia: Analysis on three common forensic entomology animal models. Tropical Biomedicine. 30(3), 481-494.
  20. Abd- Al Galil FM, Zambare SP. Effect of temperature on the development of Calliphorid fly of forensic importance Chrysomya megacephala (Fabricius, 1974). Indian Journal of Applied Research 2015; 5 (2): 767-69.
Kenawy MA, Al Ashry HA, Shobrak MA. Synanthropic flies of Asir Province,


Full Text: PDF

DOI: 10.30595/hmj.v2i1.4204

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


ISSN: 2620-567X