Kajian Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Di Ruang Intensive Care Unit (ICU) Di Salah Satu Rumah Sakit Swasta Di Bandung

Ani Anggriani, Ida Lisni, Kusnandar Kusnandar

Abstract


Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan dan ancaman global bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik dan infeksi nosokomial lebih banyak terjadi di ruang Intensive care unit (ICU). Faktor peningkatan resistensi antibiotik di ruang ICU meliputi penggunaan obat antibiotik dengan spektrum yang luas, kemudahan terjadinya cross-transmission, dan gangguan pertahanan tubuh pasien yang dirawat di ruang ICU. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menilai penggunaan antibiotik pada pasien yang dirawat di ICU di salah satu RS swasta di Bandung. Penelitian dilakukan menggunakan metode observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif dan konkuren, dan penyajian data secara deskriptif meliputi data hasil analisis kuantitatif yaitu berdasarkan jenis kelamin, usia, diagnosa, penggunaan obat antibiotik dan data analisis kualitatif yaitu berdasarkan indikasi, dosis pemberian, interval waktu pemberian, lama waktu pemberian, kombinasi, dan interaksi obat. Analisis kuantitatif penggunaan antibiotik berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, tidak ada perbedaan secara bermakna, berdasarkan usia paling banyak usia 65 tahun ke atas, berdasarkan diagnosa terbanyak adalah gastroenteritis akut dan stroke infark, sedangkan antibiotik paling banyak digunakan di ruang ICU adalah antibiotik seftriakson. Analisis kualitatif dinilai kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan indikasi penyakit 100%, berdasarkan dosis pemberian 100%, berdasarkan interval waktu pemberian antibiotik 92,31%, berdasarkan lama waktu pemberian antibiotik 92,31%, berdasarkan kombinasi sinergis terjadi pada penggunaan antibiotik seftriakson dengan meropenem, seftazidim dengan levofloxacin, dan metronidazol dengan levofloxacin masing-masing 7,69%. Berdasarkan interaksi, terjadi interaksi mayor pada obat deksametason dengan levofloksasin (7,69%) dan moderate pada obat seftriakson dengan furosemid (7,69%). Antibiotik seftriakson paling banyak digunakan di ruang ICU. Dari kajian rasionalitas diketahui adanya kesesuaian penggunaan antibiotik berdasarkan indikasi penyakit, dosis pemberian, interval waktu pemberian, lama waktu pemberian, dan penggunaan kombinasi antibiotik. Terjadi interaksi obat signifikan secara klinis.


Keywords


Antibiotik; evaluasi penggunaan obat; Intensive care unit (ICU); Rasional penggunaan

References


Anggraini, Y. 2012. Evaluasi penggunaan antibiotika di ruang HCU dan ruang ICU Rumah Sakit Kanker Dharmais. Tesis. Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila.

Hatcher, J., Dhillon, R.H.P., Azadian, B.S. 2012. Antibiotic resistance mechanism in the intensive care unit. Journal of the Intensive Care Society, 13(4):297-303.

AHFS (American Hospital Formulary Service). 2011. Drug Information. www.drugs.com. Data diakses pada 12 Januari 2015.

Baxter, K. 2012. Stockley’s Drug Interaction. Eight Edition. London: Pharmaceutical Press.

Hardman, J.G. Limbird, L.E. 2014. Goodman & Gilman: Dasar Farmakologi Terapi. Volume 3. Jakarta: EGC.

Kemenkes RI. 2011a. Pedoman Pelayanan Kefarmasian untuk Terapi Antibiotik. Jakarta: Depkes RI.

Kemenkes RI. 2011b. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Jakarta: Depkes RI.

Dwiprahasto, I. 2005. Kebijakan untuk meminimalkan resiko terjadinya resistensi bakteri di unit perawatan intensif rumah sakit. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 8(4):177-181.


Full Text: PDF

DOI: 10.30595/pharmacy.v15i2.3061

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

ISSN: 2579-910X