Perbandingan Efektifitas Antinyeri Salep Daun Gatal Dari Simplisia Laportea decumana dan Laportea sp.

Eva Susanty Simaremare, Elizabeth Holle, Made Budi, uliana Y. Yabansabra

Abstract


ABSTRAK Daun gatal (Laportea spp.) adalah tanaman asli Papua yang telah dipergunakan secara turun temurun oleh masyarakat Papua sebagai obat antinyeri. Daun gatal tersebar luas di Papua mulai dari daerah pantai hingga pegunungan. Setiap daun gatal dengan tipe genus yang berbeda memiliki efek iritan atau antinyeri yang berbeda. Salep daun gatal sudah dibuat dengan basis larut air dan sedang dikembangkan. Oleh karena salep daun gatal ini belum memiliki efektifitas yang maksimal seperti daun aslinya maka perlu dilakukan pengembangan produk secara terus-menerus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efektifitas salep daun gatal asal Biak (L. decumana) dengan salep daun gatal (Laportea sp.) asal Depapre. Sampel diambil dari petani lokal Biak Provinsi Papua Barat dan Depapre Provinsi Papua. Simplisia dibuat dengan mengayak daun gatal berukuran 125 mesh dan diformulasi menjadi salep basis larut air. Evaluasi meliputi test organoleptik, pH, homogenitas, daya sebar, daya lekat, dan uji efektifitas. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa daun gatal asal Biak lebih efektif dibandingkan salep asal Depapre. Kata kunci: daun gatal, salep, Papua, antinyeri. ABSTRACT Daun gatal (Laportea spp.) as original plant from Papua has been using for pain relief as traditional medication in the local community widely. Daun gatal is found in Papua from coastal to highland. Every plant with different of genus has different iritation effect also. Oitment of daun gatal has been made with water soluble base and expanded. Because of this oitment has not maximal effectiveness if it is compared with its leaves, so it must be developed continously. The aim of this study to compare effectiveness of oitment daun gatal from Biak (Laportea decumana) with oitment daun gatal (Laportea sp.) from Depapre. Sample was collected from local farmers Biak province West Papua and Depapre, province Papua. Simplicia made by filtering daun gatal with 125 mesh sieve and formulate it into water soluble based oinment. The evaluation tests included organoleptic, pH, homogeneity, stinky test, effectiveness test, and the dispersive power. The results showed that ointment daun gatal from more effectiveness then Depapre. Key words: daun gatal, ointments, Papua, pain relief.

References


, D., Malik, M., Susiladewi, M. 2010. Formulasi krim serbuk getah buah pepaya (Carica papaya L.) sebagai antijerawat. Prosiding seminar nasional peranan dan kontribusi herbal dalam terapi penyakit degenarif. Universitas Wahid Hasyim Semarang. pp. 42-47. Anggreaeni, Y., Hendrad, E., dan Purwanti, T. 2012. Karakteristik sediaan dan pelepasan diklofenak dalam sistem niosom dengan basis gel carbomer 940. PharmaScientia, 1(1):1-15. Astuti, I.K., Sudirman, I., Hidayati, U., 2012. Pengaruh konsentrasi adeps lanae dalam dasar salep cold cream terhadap pelepasan asam salisilat. Pharmacy, 5(1):22-29. Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan. Kavalali, G. 2003. The chemical and pharmacological aspects of urtica. Taylor and Francis Ltd. Naibaho, O.H., Yamlean, P.V.Y., Wiyono, W. 2013. Pengaruh basis salep terhadap formulasi pada kulit sediaan salep ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctu L.) punggung kelinci yang dibuat infeksi Staphylococcus aureus. Pharmachon 2(2):27-33. Simaremare, E.S., Gunawan, E., Ruban, A., Nainggolan, M.T., Yenusi, C. 2014. Seminar nasional tanaman obat Indonesia. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Simaremare, E.S. 2014. Skrining fitokimia ekstrak etanol daun gatal (Laportea decumana (Roxb.) Wedd). Pharmacy, 11(01):98-107. Tualeka, S. 1986. Pemeriksaan farmakognostik dan usaha skrining komponen secara kromatografi lapis tipis daun gatal (Laportea decumana (roxb.) Wedd) asal Maluku. Skripsi. Universitas Hasanuddin. Yasni dan Puro. 2012. Kajian aktivitas antibakteri daun gatel (Laportea decumana (Roxb.) Wedd.) dan daun benalu cengkeh. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Winduo, S.E. 2003. Indigenous knowledge of medicinal plants in Papua New Guinea. Canterbury: University of Canterbury. [WHO] World Health Organization. 2009. Medicinal Plants in Papua New Guinea. Manila: World Health Organization, regional office for the Western Pacific.


Full Text: ##PDF##

ISSN: 2579-910X