Sifat Fisik Dan Daya Iritasi Gel Ekstrak Etanol Herba Pegagan (Centella asiatica L.) dengan Variasi Jenis Gelling Agent

Trecya Fujiastuti, Nining Sugihartini

Abstract


ABSTRAK Pegagan (Centella asiatica L.). memiliki khasiat sebagai antibakteri, sehingga perlu dibuat dalam sediaan yang praktis dan nyaman dipakai seperti dalam bentuk gel. Pembuatan gel dari ekstrak etanol herba pegagan memerlukan gelling agent yang tepat agar diperoleh sediaan gel yang memenuhi syarat sifat fisik dan tidak menimbulkan iritasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis gelling agent terhadap sifat fisik dan daya iritasi sediaan gel ekstrak etanol herba pegagan. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%. Ekstrak tersebut dibuat menjadi sediaan gel dengan basis HMPC (F I), basis HMPC dan ekstrak (F II), basis carbopol (F III), basis carbopol dan ekstrak (F IV), Basis CMC Na (F V) dan basis CMC Na dan ekstrak (F VI). Gel kemudian diuji organoleptis, sifat fisik (uji pH, uji daya sebar, uji daya lekat), dan uji iritasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis statistik menggunakan analisis ANOVA dan Kruskall-Wallis dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi gelling agent berpengaruh terhadap daya sebar dan daya lekat sediaan gel ekstrak etanol herba pegagan. Daya sebar gel dengan gelling agent PMC memiliki daya sebar yang paling besar yaitu: 52,282 ± 2,515 mm2. Daya lekat gel dengan formula gelling agent carbopol ditambah ekstrak pegagan memiliki daya lekat yang paling besar yaitu 3,614 ± 0,128 detik. Berdasarkan uji iritasi, sediaan gel ekstrak etanol herba pegagan dengan variasi gelling agent tidak menyebabkan iritasi kulit pada marmut dan juga tidak mempengaruhi nilai pH. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gelling agent yang paling baik untuk sediaan ekstrak etanol herba pegagan adalah carbopol karena carbopol memiliki daya sebar yang baik, daya lekat baik dan tidak menimbulkan iritasi. Kata kunci: daya iritasi, gelling agent, pegagan (Centella asiatica L), sifat fisik. ABSTRACT Pegagan has activity as an antibacterial, so that required to be formulated into comfortable and practical used dosage form such as gel. Formulation of ethanolic exctract of Centella asiatica need gelling agent in order to obtain a gel which fulfill the physical properties requirement of gel and not cause irritation effect. The aim of the research to know the influence of the type of gelling agent toward the physical properties and irritation potential of gel of ethanolic extract of Centella asiatica, L. The extract was gotten by maceration method by using 70% ethanol. The extract was formulated become gel. The physical properties of gel was evaluated by organoleptic test, pH test, adhesivity test, spreadebility test, and skin irritation test. Data was analyzed with statical analysis using ANOVA test ab kruskall wallis test and then continued with Mann Withney test with 95% of confident level. Result of the research indicate that variation of gelling agent have an effect on spreadability and adhesivity of gel of ethanolic extract of Centella asiatica, L. The gel that has biggest spreadibility power is gel with HPMC formulation with the value 52.282 ± 2.515 mm2 and the smallest spreadibility power is gel with carbopol combinated with extract formulation with value 27.818 ± 1.023 mm2. While for the smallest adhesivity value on gel with HPMC formulation is 1.632 ± 0.289 second, and then the biggest adhesivity value on gel with carbopol is added extract is 3.614 ± 0.128 second. Variation of gelling agent did not influence of all of the gel formulas did not have irritation effect to marmut skin and pH value. The right gelling agent for ethanolic extract of Centella asiatica, L is carbopol because carbopol has a good spreadibility, good adhesivity, and minimal of irritation effect. Key words: Centella asiatica L, gelling agent, physical properties of gel, irritable potential.

References


Allen, L.V. 2002. Secundum artem: current & practical compounding information for the pharmacist. Volume 4, 5. Oklahoma: University of Oklahoma. Anonim. 1998. Acute dermal irritation. http://www.epa.gov/opptsfrs/OPPTS harmonized/870 Health effect test guideline/ series/870-2500.pdf. diakses Oktober 2012. Ansel, H,C. 1989 Pengantar bentuk sediaan farmasi. Edisi IV, Hal 390-395, 490, 513. Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim. Jakarta: UI Press. Fardiaz, Srikandi, Dewanti, R., Budijanto, S. 1987. Risalah Seminar; Bahan tambahan kimiawi (food additive) Institut Pertanian Bogor, Bogor. Jagtap, N.S., Khadabadi, S.S., Ghorpade, D.S., Banarase, N.B., Naphade, S.S. 2009. Antimicrobial and antifungal activity of Centella asiatica (L.) Urban, Umbeliferae. Research Journal Pharmacy and Technology, 2(2):328-330. Jayanti, H.D. 2007. Pegagan. Padang: FMIPA, Universitas Negeri Padang. Oetary, S. 1987. Pengaruh surfaktan non ionik yang dicampur dalam basis salep hidrofil (USP) terhadap pelepasan asam salisilat secara in vitro. Thesis. Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta. Somboonwong, J., Kankaisre, M., Tantisira, B., Tantisira, M.H, 2012. Wound healing activities of different extracts of Centella asiatica in incision and burn wound models: an experimental animal study, BMC Complementary and Alternative Medicine, 12:103. Tranggono. 2007. Buku pegangan ilmu pengantar kosmetik. Jakarta: Gramedia. Wu, F., Bian, D., Xia, Y., Gong, Z., Tan, Q., Chen, J., Dai, Y. 2012. Identification of major active ingredients responsible for burn wound healing of centella asiatica herbs. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2012:1-13.


Full Text: ##PDF##

ISSN: 2579-910X