PERSEPSI MASYARAKAT BANJAR TERHADAP KAPUHUNAN

Achmad Faizal, Lita Arianti

Abstract


Dalam bahasa Banjar sebenarnya tidak ada kata “Kepohonan” tetapi yang ada adalah “Kapuhunan”. Huruf “e”=”a”, huruf “O”=”u”. Itulah pelafalan huruf dalam bahasa Banjar yang mendominasi bahasa di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan. Didalam adat Banjar mitos Kapuhunan adalah suatu kejadian yang terjadi ketika seseorang dalam tubuhnya dirasuki atau dimasuki atau diganggu oleh makhluk halus penunggu pohon yang menyebabkan orang tersebut bertingkah laku tidak sewajarnya.Untuk itu perlunya mengetahui persepi dari masyarakat Banjarmasin itu sendiri tentang budaya Kapuhunan. Penulisan ini bertujuan untuk menguraikan persepsi masyarakat Banjar mengenai kapuhunan, subjek yang digunakan adalah masyrakat dari suku Banjar dan metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan pendekatan kualitatif studi fenomologi dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah persepsi kapuhunan sudah mengalami pergeseran makna. Saat ini, kapuhunan dipersepsikan sebagai tulah atau kesialan.

 

Kata Kunci: Kapuhunan; Persepsi; Masyarakat

 

ABSTRACT

In the Banjar language there is actually no word "petition" but the existing one is "kapuhunan". The letter "e" = "a", the letter "O" = "u". that is the pronunciation of the letters in the Banjar language that dominates the language in Kalimantan, especially South Kalimantan. In Banjir myth Kapuhunan myth is an incident that occurs when a person in his body is possessed or entered or disturbed by the spirit of tree watcher that causes the person to behave inappropriately. To that end perlunyamengetahui percepi from Banjarmasin society itself about Kapuhunan culture. This writing aims to describe the perception of Banjar society about kapuhunan, the subjects used are the community of the Banjar tribe and the method used in the research by using a qualitative approachstudifenomologidata collection using interviews. The result of this research is that the perception of the kapuhunan has undergone a shift in meaning. Currently, kapuhunan perceived as plagues or bad luck.

 

Keywords: Kapuhunan; Perception; Society


References


Herdiansyah, H.(2015). Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Psikologi. Jakarta: Salemba Humanika

Kawi, D. (2002). Bahasa Banjar Dialek dan Subdialeknya.Banjarmasin : PT Grafika Wangi kalimantan

Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi.Jakarta : PT RinekaCipta

Matsumoto, D. (2008). Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta:PustakaPelajar.

Sarwono, S.W. (2015). Psikologi Sosial Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial. Jakarta:BalaiPustaka

Sarwono, S.W & Meinarno, E. A. (2014).Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.

Suciati.(2015). Psikologi Komunikasi Sebuah Tinjauan Teoritis dan Perspektif Islam.

Soekanto, S & Sulistyowati, B. (2015).Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

Walgito, B. (2003). Psikologi Sosial (Suatu Pengantar).Yogyakarta : ANDI


Full Text: ##PDF##

DOI: 10.30595/psychoidea.v16i2.3361

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

ISSN: 1693-1076