Hubungan Antara Multiparitas Terhadap Terjadinya Perdarahan Antepartum Di RSIA Aprillia Cilacap

Setya Dian Kartika, Ageng Brahmadhi

Abstract


Perdarahan antepartum hingga saat ini masih memegang peranan penting sebagai penyebab utama kematian, sekalipun di negara maju. Menurut WHO, di perkirakan terdapat 4 juta kasusn perdarahan antepartum setiap tahunnya dan paling sedikit 128.000 wanita mengalami perdarahan sampai meninggal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan antara multiparitas terhadap terjadinya perdarahan antepartum di RSIA Aprillia Cilacap. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian crossectional. Penelitian ini dilakukan di RSIA Aprillia Cilacap pada bulan Januari 2016. Populasi penelitian adalah ibu bersalin di RSIA Aprillia Cilacap terhitung pada bulan Januari - Desember 2015. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Penelitian kali ini menggunakan sampel sebesar 90 pasien yang terdiri dari 45 primipara dan 45 multipara. Analisis data menggunakan Chi­Square dan Odds Ratio. Hasil penelitian dari 80 pasien yang diteliti berdasarkan analisa Chi­Square, Chi­Square hitung 4,455 > Chi­Square tabel 3,841 dan p­value 0,034 < α 0,05. jadi kesimpulannya adalah pada tingkat kepercayaan 95% dan α= 0,05 terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian perdarahan antepartum dengan odds ratio 2,76 (p=0,035). Dari penelitian dapat disimpulkan multiparitas merupakan faktor risiko untuk kejadian perdarahan antepartum.

Kata kunci : paritas, perdarahan antepartum

References


Burton, J.L., et al., Oxford Concise Medical Dictionary. 7th ed. New York: Oxford University. 2007. Press:524.

Dorland, Newman. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29, Jakarta.2002 :EGC,1765.

BKKBN. Deteksi Dini Komplikasi Persalinan. Jakarta : BKKBN. 2006.

Prawirohardjo, Sarwono. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta : YBP – SP. 2006.

JNPK-KR. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: JHPIEGO.2007.

Mgaya AH, Massawe SN, Kidanto ML, Mgaya HN. Grand multiparity: is it still a risk in pregnancy?. BMC Pregnancy and Childbirth. 2013. H: 13(1):241-2.

Niswati A, Yusnaini S, Arif MAS. Populasi mikroba pelarut fosfat dan P-tersedia pada rizosfir beberapa umur dan jarak dari pusat perakaran jagung (Zea mays L.). Jurnal Tanah Tropika. 2008. 13(2):123.130

Alsammani MA dan Ahmed SR. Grandmultiparity: risk factor and outcome in a tertiary hospital: a comparative study. Med Arch. 2015. 69(1):38-41.

Ahmed, S., dan H. Murtaza. “Critical Analysis of the Factors Affecting the Dividend Payout: Evidence From Pakistan”. International Journal of Economics, Finance, and Management Sciences 3 .2015. (3). 204-212.

Tequete I, Maiga AW, Leppert PC. Maternal and neonatal outcomes of grand multiparas over two decades in Mali. Acta Obstet Gynecol Scand. 2012.91(5):580-6

Karkata MK, Wardana . Faktor risiko plasenta previa. CDK 34: 229-232. 2013.

Kramer MS, Berg C, Abenhaim H, Dahhou M, Rouleau J, Mehrabadi A, et al. Incidence, risk factors, and temporal trends in severe postpartum hemorrhage. Am J Obstet Gynecol. 2013. 209(5):449-56.

Bateman, ND; Fahy, C; Woolford, TJ.”Nasal Polyps: Still more questions than answer.”The Journal of Laryngology and Otology. 2003. (117): 1-9.

Graham ID, Harrison MB, Larimer K, et al. Stroke Careand Stroke Foundation. (2010). Stroke Rehabilitation. 2006. dari http://www.heartandstroke.com diunduh 22 Februari 2016

Hogan,D. J., Contact Dermatitis, Allergic. 2009. Diperoleh dari: http://www.Contact diunduh 10 Maret 2016

Wardana G.A dan Karkata M.K. “Faktor Resiko Plasenta Previa”.dalam CDK. 2007. 34: 229­32

Wetta LA, Szychowski JM, S Seals, Mancuso, JR Biggio, AT Tita. Risk factor for uterine utery/postpartum hemorrhage requiring treatment after vaginal delivery. Am J Obstet Gynecol. 2013. 209(1):1-12

Wandabwa J, Doyle P, Todd J, Ononge S, Kiondo P. Risk factors for sereve post partum haemorrhage in Mulago hospital, Kampala, Uganda. East Efr Med J. 2008. 85(2):64-71

Oxorn, H. Patologi dan Fisiologi Persalinan. Jakarta: Yayasan Essentia Medika. 2003. p: 425­39

Alamsyah,.“Manajemen Pelayanan Kesehatan”. Yogyakarta: Nuha Medika. 2012.

Wijknjosastro, H. Anatomi Panggul dan Isinya. Ilmu Kandungan. Edisi 2. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2008. 1-6.

Cunningham F.G. Obstetri William Vol. 1. Jakarta: EGC.2006. p:685­704

Suyono, Lulu, Gita, Harum, Endang.. “Hubungan Antara Umur Ibu Hamil dengan Frekuensi Solusio Plasenta di RSUD Dr. Moewardi Surakarta”. dalam CDK. 2007. 34: 233­7

Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2010. p: 363­85

Manuaba I.B.G,.Kapita Selekta Penatalaksanaan Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC. 2001. p: 436­41

Mose J.C. Perdarahan Antepartum dalam: Sastrawinata S. Ilmu kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Jakarta: EGC. 2005. p:83­97

Heija Abu, Fayez El­jallad, SaeedZiadeh.”Placenta Previa: Effectof Age, Gravidity, Parity and Previous Caesarean Section” dalam Gynecol Obstet Invest. 1998.47: 6­8

Eniola A.O, A.U Bako and D.O. Selo­Ojeme.“RiskFactor Placenta Previa In Southern Nigeria” dalam East African Med. J. 2002. 79: 535­8

Faiz, AS and Ananth, CV. Etiology and risk factors for placenta previa: An overview and meta-analysis of observational studies. Journal of MaternalFetal and Neonatal Medicine. 2003. 13: 175–190.

Sarwar I, Abbasi A, Islam A.“Abruptio Placentae and Its Compliations at Ayub Teaching Hospital Abottabad” dalam J. Ayub Med. Coll. Abbottabad. 2006. 18:1­5

Saifudin A.B. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006. p: 160­71

Jabeen M and Gul F.”Abruptio Placenta: Risk Factors and Perinatal Outcome” dalam JPMI. 2004. 18: 669­76

Varney H. Buku Ajar Asuhan Kebidanan vol.1. Jakarta : EGC. 2006. p: 643­44

Chalik TMA. Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya Medika. 1998. p:129­44


Full Text: PDF

DOI: 10.30595/sainteks.v13i1.1492

ISSN: 2686-0546