Analisis Dilatasi pada Bangunan Tak Beraturan Tipe L (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Tower dan Multazam Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong)
DOI:
https://doi.org/10.30595/civeng.v7i1.21736Abstract
Gempa bumi merupakan peristiwa yang sering terjadi di Indonesia. Akibat dari gempa bumi tersebut adalah terjadinya getaran searah horizontal pada permukaan tanah. Maka itu perlu ditambahkannya beban gempa untuk memperkuat struktur tersebut. Selain itu, dilatasi juga menjadi salah satu cara untuk meminimalisir dampak dari gempa bumi tersebut. Namun bagaimana jika jarak dilatasi yang direncanakan berbeda dengan yang dilaksanakan di lapangan. Metode peneilitan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode ini akan dibantu dengan softwere ETABS Versi 20 yang digunakan untuk melakukan pemodelan struktur dan menganalisis prilaku struktur dari pemodelan yang sudah dibuat terhadap secara akurat. Selain itu hasil dari analisis struktur tersebut menggunakan softwere ETABS bisa dugunakan untuk menganalisis dilatasi dalam studi kasus di proyek penelitian ini.Nilai simpangan antar lantai terbesar pada arah X dan arah Y di gedung Tower adalah 64,889mm dan 67,494mm, di gedung Multazam 1 adalah 48,889mm dan 47,407mm, dan di gedung Multazam 2 adalah 47,110mm dan 47,131mm. Hasil dari jarak dilatasi terhadap struktur yang ditinjau (Tower dan Multazam 1) adalah 60mm pada perencanaan dan 150mm pada pelaksanaan. Nilai simpangan terbesar pada struktur yang ditinjau (Tower dan Multazam 1) pada arah X dan arah Y adalah 64,889mm dan 67,494mm. Berdasarkan nilai simpangan terbesar tersebut didapatkan jarak dilatasi sebesar 132,383mm, dimana jarak dilatasi tersebut lebih besar dari jarak dilatasi rencana (tidak aman) dan lebih kecil dari jarak dilatasi pelaksanaan (aman)
References
[1] Amalia, dkk. (2022). Respom Struktur Akibat Penempatan Dilatasi Pada Bangunan Dengan Ketidakberaturan Horizontal. Jurnal Ilmiah Teknologi Informasi Terapan, 8.
[2] Arif Durachman, H. M. (2022). Analisis Jarak Dilatasi Struktur Bangunan Menggunakan Sistem Dilatasi Dua Kolom. Jurnal Rekayasa Infrastruktur, 11.
[3] Baehaki, S. A. (2018). Analisis Perilaku Struktur Gedung Lab Terpadu UNTIRTA Berdasarkan Peraturan SNI 1726:2012. Jurnal Fondasi Jurusan Teknik Sipil Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, 12.
[4] Hermawan, D. (2022). Analisis Pengaruh Dilatasi Bangunan Gedung Tinggi Menggunakan ETABS Pada Bangunan 6 Lantai Berdenah T. Jurnal Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, 93.
[5] Nugroho, A. (den 4 June 2022). Sistem dilatasi Bangunan/Pemisah Struktur Terlengkap. Hämtat från Tempat.org: https://tempat.org/dilatasi-bangunan/
[6] Prihandoyo, R. (2021). Evaluasi Pengaruh Dilatasi Pada Gedung Baja Empat Terhadap Beban Gempa Menggunakan Metode Statik Pushover. 69.
[7] SNI 1726-2019. (2019). Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional Inonesia.
[8] SNI 1727-2020. (2020). Pembebanan Bangunan Gedung. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional Indonesia.
[9] SNI 2847-2019. (2019). Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional Indonesia.
[10] Syano Verdio Juvientrian, H. M. (2014). Analisis Bangunan Asimetris Terhadap Tinjauan Delatasi Akibat Gaya Horizontal. Jurnal Konstruksi, 13.
[11] Trikanada, M. (2021). Analisis Perbandingan Efektivitas Penggunaan Dilatasi Balok Kantilever dan Dilatasi 2 kolom Pada Proyek Gedung Parkir Bertingkat Kampus B Universitas Airlangga. Jurnal Teknik Sipil Universitas Jember, 47.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 CIVeng: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

CIVeng : Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.






