PENGARUH LATAR BELAKANG PENDIDIKAN PASIEN TERHADAP KETERATURAN PENGOBATAN TB PARU DI PUSKESMAS WANGON I BANYUMAS

Authors

  • Abdul Hakim Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto
  • Prima Maharani Putri Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Purwokerto

DOI:

https://doi.org/10.30595/psychoidea.v13i2.1564

Abstract

Tuberkulosis Paru (TB Paru) telah dikenal hampir di seluruh dunia, sebagai penyakit kronis yang dapat menurunkan daya tahan fisik penderitanya secara serius.Masalah tuberculosis banyak berkaitan dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat.Kebanyakan penderita tuberkulosis dapat disembuhkan jika penderita patuh terhadap pengobatan yang diberikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latar belakang pendidikan terhadap kepatuhan berobat pasien TB Paru di Puskesmas Wangon I banyumas.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitikdengan menggunakanpendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 54 responden.Tiap sampel diharuskan mengisi kuesioner yang didahului dengan wawancara.Data tersebut kemudian dianalisis dengan uji chi-kuadrat.Hasil penelitian ini pasien yang teratur berobat sebanyak 85,19%. Sedangkan Pendidikan rendah yaitu (70,37%), dan jumlah responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 16 orang (29,63%). Berdasarkan hasil uji chi-kuadrat menunjukan pengaruh negative signifikan antara tingkat pendidikan pasien dan keteraturan pengobatan tuberkulosis paru.Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa latar belakang pendidikan tidak berpengaruh terhadap keteraturan berobat TB Paru.pasien dengan pendidikan rendah dan pendidikan tinggi mempunyai kecenderungan yang sama dalam keteraturan pengobatan. Kata kunci : latar belakang pendidikan, keteraturan berobat, pasien TB paru

References

Fahreza1, E U, Waluyo, H & Novitasar, A (2012), Hubungan antara Kualitas Fisik Rumah dan Kejadian Tuberkulosis Paru dengan Basil Tahan Asam positif di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah, 1 (1), 9-13

Ahmadi A. (2001). Ilmu pendidikan. Jakarta: Rineka cipta.

Ainur. (2015). Kejadian Putus Berobat Penderita Tuberkulosis Paru denganPendekatan DOTS. www//http:litbang.depkes.go.id/ di unggah pada tanggal 10 Januari

Amryl Y. 2002. Keberhasilan Directly Observed Therapy (DOT) pada Pengobatan TB Paru Kasus Baru di BP4 Surakarta. Jakarta: Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK UI. Tesis.

Departemen Kesehatan RI. (2000). Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Dalam: Seminar sehari TB Paru dalam rangka peringatanhari TB sedunia. Jakarta. hal 35-40

Departemen Kesehatan RI. (2001). .Kematian, Jakarta: Portal DEPKES RI. 2001.

Depkes. (2004), Pengendalian TB di Indonesia mendekati target Millenium Development Goals (MDGs). http://www.depkes.go.id. Di unggah pada tanggal 20 Desember 2014.

Dinkes Provinsi Jawa Tengah. (2004). Profil Kesehatan Profinsi Jawa Tengah 2004. Semarang: Dinkes Provinsi jawa tengah .

Fordiastiko. (1995). Penatalaksanaan TB Paru pada Penderita Diabetes Melitus.Dalam :Paru. 15,(3), 108.

Intang, B. (2005). Evaluasi Faktor Penentu Kepatuhan Pengobatan TB Paru Minum Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Kabupaten Maluku Tenggara. Thesis. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Muzaham, F. (1995). Memperkenalkan Sosiologi Kesehatan. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Pranaka. (1987). Globalisasi,Pemberdayaan dan Demokratisasi Pemberdayaan: Konsep Pemberdayaan dan Implementasi.

Rahmat, H. (2014). Pertemuan Nasional Program Pembrantasan Penyakit Menular Langsung (P2ML).Purwokerto : Portal Pikiran Rakyat Online www.pikiran-rakyat.com di unggah pada tanggal 25 Desember 2014.

Sugiyono.(2005). Metode Penelitian . Bandung: Alfabeta. 2005.

Supardi. D. (2006). Pulmonary Tuberculosis Outpatients in Lung Department Dr. Ramelan Hospital, (Uji Faal Paru Penderita Tuberkulosis Paru yang Berobat Jalan di Poliklinik Paru) URJ RSAL Dr. Ramelan. Surabaya: Cermin Dunia Kedokteran, (99), 1995, 9-13

Surnyata, I.W.T. 2000. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Tuberkulosis Paru di Kabupaten Timur Tengah Selatan.Thesis. Yogyakarta, Universitas Gajah Mada.

Tugaswati, I, Y. (2004). Hubungan Antara Kepatuhan Berobat dengan Perbedaan Usia Pasien Tuberkulosis Paru pada Kelompok Usia 15-24 tahun, 25-49 tahun, dan ≥50 tahun. Skripsi. Surakarta, Universitas Sebelas Maret.

Melsen, V., (1985). Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita. Yogyakarta: Kanisius.

WHO, (2011). WHO Report 2011 :Global tuberculosis control, Geneva, Swiss: WHO.

WHO. (2000). Tuberculosis is the single biggest killer of young women. Midwifery.

Downloads

Published

2015-07-01

Issue

Section

PSYCHOIDEA