STUDI MIKROBIOLOGI DAN SIFAT KIMIA MIKROORGANISME LOKAL (MOL) YANG DIGUNAKAN PADA BUDIDAYA PADI METODE SRI (System of Rice Intensification)
DOI:
https://doi.org/10.30595/sainteks.v10i2.148Abstract
Penggunaan larutan mikroorganisme lokal (MOL) dalam metode SRI budidaya padi yang dikembangkan di Indonesia dimulai awal sejak persiapan bibit fase vegetatif, pembentukan malai dan pengisian bulir padi. MOL adalah cairan yang dapat dibuat dari bahan yang tersedia di sekitar kita seperti sisa sayuran, rebung, keong mas, buah maja, daun gamal, bonggol pisang, nasi, urine kelinci, dan lain-lain. Cairan umumnya diberikan 10, 20, 30, 40 dan 60 hari setelah tanam (HST ) atau sesuai kebutuhan. Penelitian ini menggunakan larutan MOL yang terbuat dari bonggol pisang, keong mas dan urin kelinci. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan mikrobaa, identifikasi mikrobaa dan sifat kimia dalam MOL bonggol pisang, keong mas dan urin kelinci. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanah IPB. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor (waktu) dan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan MOL bonggol pisang memiliki rata-rata nilai pH terendah (4,2-4,5) dan nilai EC tertinggi (10,44-12,82 mikrodetik/cm) selama proses fermentasi. MOL keong emas memiliki rata-rata pH tertinggi (4,5-6,55) dan dan yang paling oksidatif - reduktif nilai Eh [ 269-(-381) mV ] selama proses fermentasi. MOL urin kelinci memiliki nilai rata-rata terendah dari EC (2,18-2,23 mikrodetik/cm) dan mengandung lebih banyak unsur K, Ca, Mg, Cu, Zn, Fe dan Mg dari kedua jenis MOL lainnya. Selanjutnya, Bacillus sp., Aeromonas sp. dan Aspergillus niger diidentifikasi dalam MOL dari bonggol pisang. MOL dari keong mas mengandung Staphylococcus sp. dan Aspergillus niger, sedangkan MOL urin kelinci memiliki Bacillus sp. , Rhizobium sp. , Pseudomonas sp. , Aspergillus niger dan Verticillium sp. Kata kunci : SRI, MOL, sifat kimia MOL, identifikasi mikrobaaReferences
Amy, C., Gruszecki, D.O., Sarah, H., Armstrong, M.T., Ken, B., Waites, M.D. 2002. Rhizobium radiobacter bacteremia and its detection in the clinical laboratory [abstrak]. Clin Microb Newsletter 24(20): 151-155. http://www.cmnewsletter.com [21 Maret 2011].
Bharata, D. 2004. Hubungan Antara Inokulasi Fungi Pelarut Fosfat, Pemberian Sumber C dan Waktu Inkubasi terhadap Ketersediaan P Pupuk Fosfat Alam [skripsi]. Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Buckman, H.O., Brady, N.C. 1982. Ilmu Tanah. Terjemahan Soegiman. Bharata Karya Aksara. Jakarta.
Chalcedaas, P.N.M. 1998. Conductivity of nutrient simplyfied. Practical Hydroponic and Greenhouse. International Trade Directory 1998-1999. p 122-124.
Holt, J.G., Krieg, N.R., Sneath, P.H.A., Staley, J.T., Williams, S.T. 1994. Bergey’s Manual of determinative Bacteriology. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelpia.
Janda, J.M., Abbott, S.L. 2010. The Genus Aeromonas: Taxonomy, Pathogenicity, and Infection. Clin Microb Reviews 23(1):35-73.
Jawetz, Melnick, dan Adelbergs. 2007. Mikrobaiologi Kedokteran. Salemba Medika. Surabaya.
Kusarpoko, B. 1994. Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Anaerobik Perombak Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit [tesis]. Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Maningsih, G., dan Anas, I. 1996. Peranan Aspergillus niger dan bahan organik dalam transformasi P anorganik tanah. Dalam Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. Badan Litbang Pertanian. Puslittanak. 14:31-36.
Morgan L. 2000. Electrical Conductivity in Hydrophonics. In Knutson A. (Eds). The Best of The Growing Edge. Corvallis: New York Moon Publ. Inc.pp:39-44.
NOSC. 2008. Panduan pelatihan SRI Organik. Nagrak Organic Center. Sukabumi.
Ponamperuma, F.N. 1976. Physicochemical Properties of Submerged Soils in Relation to Fertility. In The Fertility of Paddy Soils and Fertilizer Applications for Rice. Food and Fertilizer Technology Center. Taipei.
Purwasasmita M, Kunia K. 2009. Mikroorganisme lokal sebagai pemicu siklus kehidupan dalam bioreaktor tanaman. Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia- SNTKI 2009. Bandung 19-20 Oktober 2009.
Prayogo, Y. 2006. Sebaran dan Efikasi berbagai Genus Cendawan Entomopatogen terhadap Riptortus linearis pada Kedelai di Lampung dan Sumatera Selatan. J HPT Tropika 6(1):14-22.
Premono, M.E., dan Widyastuti, R. 1994. Stabilitas Pseudomonas putida dalam Medium Pembawa dan Potensinya sebagai Pupuk Hayati. Hayati 1(2):55-58.
Suharto, H., dan Kurniawati, N. 2008. Keong Mas dari Hewan Peliharaan menjadi Hama Utama Padi Sawah. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/index.php/ [30 Juli 2011].
Sumartini. 2010. Penyakit Karat pada Kedelai dan Cara Pengendaliannya yang Ramah Lingkungan. Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi-umbian. Malang. http://www.pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/p3293105.pdf . [21 Juli 2010].
Tan KH. 1982. Dasar-dasar Kimia Tanah. Yogyakarta: UGM Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access)

