The Role of the Indonesian Military in Early Independence: Nationalist and Socialist-Communist Views

Authors

  • Arifin Suryo Nugroho Universitas Muhammadiyah Purwokerto

DOI:

https://doi.org/10.30595/jssh.v9i1.25896

Keywords:

Civil-Military Relations, Early Independence, Indonesian Military, Nationalist, Socialist-Communist

Abstract

In the early years of Indonesia’s independence, the role and position of the military became a subject of debate involving various ideological perspectives, particularly between nationalist and socialist-communist factions. The nationalist group tended to view the military as a state apparatus responsible for maintaining national stability and sovereignty, while the socialist-communist faction saw it as a revolutionary force that should actively participate in class struggle and social transformation. These differing perspectives influenced military policies and the relationship between the military and civilian government, creating tensions that led to various political dynamics. This article analyzes how these two perspectives shaped the doctrine and policies of the Indonesian military and their impact on civil-military relations throughout the nation’s history. Using a historical approach and document analysis, this study aims to examine how these two perspectives influenced the concept and discourse on the role of the Indonesian military in politics during the early independence period.

References

Aidit, DN, (1963), PKI dan Angkatan Darat, Jakarta: Yayasan Pembaruan.

Alimin, (1947). Analysis, Yogyakarta: Bintang Merah.

Anderson, Ben, (1988). Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Budisantoso, In Nugroho, (2022). Hatta Mundur Karena Kecewa? dalam Rikard Bagud (ed.), Seratus Tahun Bung Hatta, Jakarta: Kompas.

Hatta, M., (1992), Demokrasi Kita, Bebas Aktif, Ekonomi Masa Depan, Jakarta: UI Press.

Kuntowijoyo, (1995). Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Bentang.

Musso, (1953). Jalan Baru untuk Republik Indonesia: Musso (1948), Jakarta: Yayasan Pembaruan.

Nugroho, N., (1991). Pejuang dan Prajurit, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Poeze, H. A., (2008). Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jakarta: Obor.

Sartono, K., (1982). Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif, Jakarta: Gramedia.

Sjahrir, (1994). Perjoangan Kita, Jakarta: Pusat Dokumentasi Politik.

Sukarno, (1965). Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 2, Jakarta: Panitia Penerbit.

Tim Redaksi Idayu, (1982). Bung Hatta Kita dalam Pandangan Masyarakat, Jakarta: Yayasan Idayu.

Djiwa Harimau Telah Bangkit Kembali. (5 Oktober 1946). Kedaulatan Rakjat.

Tentara Berdjuang untuk Rakjat, Peradjurit Berdjuang untuk Tjita-Tjita, Amanat Panglima Tetinggi Pada Hari Angkatan Perang II. (5 Oktober 1947), Kedaulatan Rakjat.

Pemerintah dan Tentara Nasional. (2 Desember 1948), Harian Umum Guntur.

Tentara Masa Peralihan Sulit. (8 Desember 1948), Harian Umum Guntur.

Hatta, Tokoh Nasional yang Belum Ada Cacad. (16 Maret 1980). Sinar Pembaruan.

Berjoenglah dengan Hati Panas dan Kepala Dingin. (18-19 Desember 1945), Kedaulatan Rakjat

Kedoedoekan Kita Koeat Sjahrir, Penjelasan Sjahrir. (3 Maret 1947), Harian Pagi Nasional.

Satoe Tentara Satoe Komando. (10 Juni 1947), Kedaulatan Rakjat.

Downloads

Published

2025-03-21

How to Cite

Nugroho, A. S. (2025). The Role of the Indonesian Military in Early Independence: Nationalist and Socialist-Communist Views. JSSH (Jurnal Sains Sosial Dan Humaniora), 9(1), 81–88. https://doi.org/10.30595/jssh.v9i1.25896