Analisis Potensi Interaksi Obat pada Resep Spesialis Saraf di RSUD X Kabupaten Majalengka

Authors

  • Siti Pandanwangi TW YPIB Majalengka University
  • Dosi Ahmad Yani YPIB Majalengka University
  • Ahmad Azrul Zuniarto YPIB Majalengka University
  • Roni Imron Muwahid YPIB Majalengka University

DOI:

https://doi.org/10.30595/pharmacy.v22i1.23994

Keywords:

Interaksi Obat, Penyakit Saraf, Rawat Inap

Abstract

Pengobatan penyakit neurological disease menggunakan banyak obat sehingga beresiko terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensial interaksi obat-obat pada peresepan pasien penyakit saraf, tingkat keparahan minor, moderate dan major, hubungan karakteristik pasien terhadap interaksi obat, serta manajemen penanganan interaksi obat. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif deskriptif berupa jenis penelitian observasional, pengambilan data secara prospektif dengan teknik quota sampling yang dilakukan bulan Maret-Mei 2024 di RSUD X Kabupaten Majalengka. Hasil penelitian dari total 60 pasien sebanyak 49 pasien (81,7%) mengalami interaksi obat, dan 11 pasien (18,3%) tidak ada interaksi. Tingkat keparahan interaksi tertinggi yaitu moderat (71,7%), minor (24,1%) dan major (4,2%). Hasil uji chi square interaksi obat dengan jenis kelamin diperoleh nilai signifikansi 0,181 dan nilai OR dengan CI 95% sebesar 0,429 yang artinya perempuan beresiko 0,429 kali terjadi interaksi obat daripada pasien laki-laki. Interaksi obat dengan usia diperoleh nilai signifikansi 0,017 dan nilai OR dengan CI 95% sebesar 8,762 yang artinya bahwa usia ≥ 45 tahun 8,762 kali beresiko akan terjadi interaksi obat jika dibandingkan usia < 45 tahun. Interaksi obat dengan jumlah obat diperoleh nilai signifikansi 0,000 dan nilai OR dengan CI 95% sebesar 105,750 yang artinya bahwa jumlah obat yang dikonsumsi pasien ≥ 5 macam obat 105,750 beresiko terjadinya interaksi obat dibandingkan pasien yang mengkonsumsi < dari 5 macam obat. Potensi terjadinya interaksi obat-obat di tingkat keparahan moderate yaitu fenofibrate – novorapid (insulin aspart), captopril-dexketoprofen, fenitoin – diazepam. Tingkat keparahan major diantaranya adalah cilostazol – lansoprazole. Interaksi obat dengan mekanisme farmakodinamik yaitu methylprednisolon-insulin aspart. Interaksi obat secara farmakokinetik dalam penelitian ini yaitu fenitoin – deksamethason.

References

Agrawal RK, Nagpure S. 2018. A study on polypharmacy, International Journal of Health & Allied Sciences, 7(4), 224-226.

Annisa. 2021. Hubungan interaksi obat pada pasien geriatrik rawat inap di Rumah Sakit Sultan Agung Semarang periode 2020, Konstelasi Ilmiah Mahasiswa Unissula.

Arfania M. 2017. Analisis hubungan faktor risiko dengan kejadian interaksi obat potensial pasien geriatri di rumah sakit swasta Yogyakarta, Pharma Xplore Jurnal Sains Dan Ilmu Farmasi.

Baxter K. 2010. Stockley’s Drugs Interaction Ninth Edition. London, Pharmaceutical Press.

Dasopang ES, Harahap U, Lindarto D. 2015. Polifarmasi dan interaksi obat pasien usia lanjut rawat jalan dengan penyakit metabolik, Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 4(4).

Drugs.com. 2024. Drugs Interaction Checker. https://www.drugs.com/drug_interactions.html.

Gupta R, Malhotra A, Malhotra P. 2018. A study on polypharmacy among elderly medicine inpatients of a tertiary care teaching hospital of North India, National Journal of Physiology, Pharmacy and Pharmacology, 8(9), 1297.

Isnenia. 2020. Penggunaan non-steroid antiinflamatory drug dan potensi interaksi obatnya pada pasien muskuloskeletal, Pharmaceutical Journal Of Indonesia, 6(1), 47–55.

Kemenkes RI. 2017. Analisis Lansia di Indonesia. Jakarta, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

Lukman Hakim A. 2022. Interaksi Obat. Adipura Book Centre.

Mahamudu YS, Citraningtyas G, Rotinsulu H. 2017. Pasien hipertensi primer di Instalasi Rawat Jalan RSUD Luwuk periode Januari – Maret 2016, Jurnal Ilmiah Farmasi, 6(3), 1–9.

Malinda, L. (2023). Analisis potensi interaksi obat pada pasien stroke di Unit Stroke Center Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram. Skripsi. Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram.

Martono. 2009. Pelayanan Kesehatan Pada Usia Lanjut. Jakarta, Balai Penerbit FKUI .

Medscape. 2024. Drugs Interaction Checker (Online).

Porogoi VL, Wiyono WI, Tjitrosantoso H. 2020. Antikejang dengan obat lain pada pasien stroke perdarahan rawat inap RSUP, Pharmacon, 9(2), 239–245.

Sari WA. 2022. Diagnosa penyakit saraf manusia dengan metode forward chaining dalam sistem pakar, JATISI (Jurnal Teknik Informatika dan Sistem Informasi), 9(3).

Stockley IH. 2010. Stockley’s Drugs Interaction Edisi 9. Great Britain, Pharmaceutical Press.

Suh S, Park MK. 2017. Glucocorticoid-induced diabetes mellitus : An important but overlooked problem, Endocrinology and Metabolism Journal,32(2):180-189.

Zulkarnaini A, Martini RD. 2019. Gambaran polifarmasi pasien geriatri di beberapa poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang, Jurnal Kesehatan Andalas, 8(1S).

Zuniarto AA, Pandanwangi S, Noviani A. 2020. Kajian interaksi obat pada resep di Poli Penyakit Dalam RSU X Cirebon, Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(4).

Downloads

Published

2025-08-19

How to Cite

Pandanwangi TW, S., Yani, D. A., Zuniarto, A. A., & Muwahid, R. I. (2025). Analisis Potensi Interaksi Obat pada Resep Spesialis Saraf di RSUD X Kabupaten Majalengka. PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), 22(1), 32–36. https://doi.org/10.30595/pharmacy.v22i1.23994

Similar Articles

> >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.